Rabu, 18 Mei 2011

MUNAFIK MENURUT AL-QUR’AN

MUNAFIK MENURUT AL-QUR’AN

I.      Pendahuluan
Persoalan munafik, dalam ruang lingkup Islam menjadi sorotan tajam. Karena bagaimanapun peran munafik sangat signifikan dalam meruntuhkan kejayaan Islam dalam sejarah peradaban islam. Namun diantara kita terkadang masih bingung akan konsep munafik. Bila kita kembali pada permasalahan, munafik sendiri berasal dari konteks keislaman. Oleh karenanya pemahaman munafik yang obyektif menurut penulis adalah dikembalikan ke dalam sumber pokok ajaran Islam sendiri yaitu al-Qur’an dan Sunnah.
Di dalam makalah ini penulis mencoba mendiskripsakan term munafik dengan menggunakan sudut pandang Al-Qur’an. Mulai dari definisi, cira-ciri, Prilaku munafik, jenis-jenis Munafik, perumpamaan munafik, keadaan di akhirat, dan sikap muslim terhadap munafik.

II.   Pengertian Munafik
Secara etimologi kata munafiq berasal dari derivasi kata “Naafaqa” dari wazan “faa’ala” yang berarti berpura-pura[1], Nifaq dalam bahasa juga bermakna bertukar-tukar lebih daripada satu wajah dan persembunyian. Sedangkan menurut istilah, munafiq ialah orang yang dhzahirnya Islam dan mengikuti Rasulullah s.a.w. tetapi menyembunyikan kekufuran dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya.[2]

III.           Ciri-ciri Munafik Dalam Al-Qur’an
Berangkat dari diri yang pecah antara perkataan/perbuatan dengan hati, melahirkan prilaku kongkrit mendiskripsikan kemunafikan itu dalam tingkah laku dan perkataan menjadi indikator dari kemunafikan. Hal ini sebagimana yang disinyalir oleh Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 14:
Artinya: “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada Syaitan-syaitan (sekutu/pemimpin) mereka, mereka mengatkan: “Sesngguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya mengolok-olok”. Q.S. al-Baqarah. 14.
Dari ayat di atas, jelaslah orang-orang munafik ketika mereka berkumpul dengan orang-orang mukmin, mereka menampakkan dhohirnya seperti orang-orang beriman. Mereka melaksanakan segala aktifitas yang diamalkan orang-orang beriman. Akan tetapi didalam hati mereka tidak mengimani dengan apa yang mereka kerjakan.
Hal ini terbukti ketika para munafikin ini kembali kepangkuan golongan asal mereka. Para munafikin mengatakan kepada golongannya, bahwa mereka tetap dengan pendirian semula. Apa yang mereka lakukan di hadapan orang-orang mukmin hanyalah sekedar kamuflase dan sebagai penghinaan terhadap  orang-orang mukmin.
Ini adalah ciri yang khas bagi munafik, yaitu lain di mulut lain pula di hati, sekalipun masalah keimanan. Ciri yang khas ini dikuatkan pula dengan hadits Rasulullah SAW.    

اية المنافق ثلاثة "اذا حدث كذب واذ وعد أخلف واذااءتمن خان (روه الشيخان عن أبي هريرة)

Artinya: Tanda-tanda orang Munafik adalah jika bercira berdusta, jika berjanji mengingkari, jika diberi amanat berkhiayanat. (H.R. Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.).
Ketika sifat yang tersebut di atas berhubungan dengan masalah iman, maka hal demikian telah mencerminkan hakikat kemunafikan seseorang sebagimana yang dimiliki oleh Abdullah bin Ubay bin Salul pada zaman rasulullah.[3]

IV.           Prilaku Munafik

1.      Menghalangi Manusia untuk berhukum dengan hukum Islam
Ketika ada seruan untuk mengikuti hukum-hukum Allah sebagai way of  life atau pandangan hidup. Mereka orang-orang munafik melakukan pertentangan dengan serius.

Artinya:
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Tidak itu saja, mereka bahkan memprovokasi orang-orang lain untuk menjahui mereka yang mengajak orang untuk berhukum dengan hukum Islam. Ajakan orang-orang munafik ini dinyatakan Allah seperti bujukan Syaitan, sehingga tidak heran manusia ada yang termakan dengan ajakan tersebut.[4]
Artinya:
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam." (Q.S. Al-Hasyr. 16)  

2.      Mengangkat Orang Kafir sebagai Kawan (Penolong, Kekasih, dan atau Pemimpin).
Kebiasaan para munafikin ialah menjadikan orang-orang kafir sebagai Auliya’[5] (kekasih, teman karib, pemimpin)[6]. Mereka menjadikan orang kafir sebagi auliya’ agar mereka mendapatkan bantuan apabila sewaktu-waktu orang-orang beriman mengetahui dan memerangi mereka.[7]
 
Artinya:
Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.
Padahal dengan jelas Allah melarang orang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai auliya’. Orang mukmin hanya boleh berbuat baik kepada orang-orang kafir, itupun dengan syarat apabila orang-orang kafir  tidak memerangi dalam jalan Allah, dan tidak mengusir dari negri[8]. Intinya mereka adlah kafir dzimmi bukan kafir harbi.
Perlu diketahui bahwa berbuat baik bukanlah berkasih sayang. Berbuat baik adalah memberikan kelebihan harta kita kepada orang-orang kafir. Orang mukmin diperbolehkan memberi, bukan menerima pemberian (makruh bila tidak menimbulkan rasa simpatik, haram bila sebaiknya).
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (Q.S. Al-Nisaa’. 144)
Artinya:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al-Mumtahanah. 08)            

3.      Membantu Orang-orang Kafir Untuk menentang Islam
Orang munafik niscaya akan membantu orang-orang kafir dalam pertentangan dengan Ummat Islam. Akan tetapi upaya bantuan mereka hanyalah tipuan belaka.
Karena sifat munafik yang mendua, dari dua kekuatan yang saling bertentangan, yakni Islam dan kafir. Mereka para munafikin mengambil keuntungan dari kekuatan tersebut, serta apa yang dilakukan tidak lebih hanyalah upaya penyelamatan dirinya sendiri.
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu." Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.
(Q.S al-Hasyr. 11-12)

4.      Malas Melaksanakan Sholat; Jika Sholat sekedar Ria’

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S. An-Nisaa’. 142)

Bila hati sudah tidak sunguh-sungguh dalam beriman, maka apa yang dilakukan juga merupakan permainan belaka. Sebagimana yang dilakukan oleh para munafikin, dalam masalah sholat mereka melaksanakannya dengan terpaksa sekali, itupun dilakukan bila di hadapan orang lain.
Sholat yang dilakukan guna untuk menipu orang-orang mukmin bahwa dia adalah orang yang beriman karena telah melakukan sebuah perintah yang paling urgent dalam pokok ajaran Islam. Bila sholat yang merupakan keajiban utama dalam rukun Islam saja sudah berani mereka poitisir guna mendapatkan pengakuan orang mukmin, terus bagimana dengan amalan-amalan yang lain?. Tentunya mereka malah berena untuk mempermainkannya.

5.      Mengatakan Orang Beriman ditipu Agama dan Bodoh

Artinya:
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S Al-Anfal. 49)

6.      Tidak Mau Berperang, Karena Takut Mati
Orang-orang muanfik, tidak mau berperang, baik atas ajakan orang-rang beriman maupun orang-orang kafir yang menjadi sekutunya, disebabkan karena dia melakukan sikap kemunafikan tersebut dalam rangka menyelamatkan dirinya, sehingga jelas sekali mereka takut mati.
Artinya:
Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk.
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang[653], dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).

7.      Membangun Masjid Untuk Menimbulkan Kemudharatan.
Artinya:
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
Orang-orang munafik juga ikut membangun masjid-masjid, tetapi tidak dijadikan sebagai pusat harakah Islamiyah, tidak dijadikan tempat untuk mengembangkan kegiatan Islam, tetapi dijadikan sebagai perusak terhadap perkemabngan Islam itu sendiri. Masjid didirikan sebagai pemudharatan umat Islam, masjid dijadikan perisai untuk merusak Islam dan umat Islam.[9]

8.      Ingkar Terhadap Ikrarnya Kepada Allah
Orang-orang munafik berikrar kepada Allah SWT.untuk siap melaksanakan ajaran Islam dan beriman dengan sebenar-benarnya, manakalah tercapai apa yang menjadi keinginannya, tetapi abpabila keinginan tersebut benar-benar tercapai, lantas mereka ngkar terhadap ikrarnya kepada Allah.[10]
Artinya:
Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.          Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.(Q.S. At-Taubah. 75-78)   

V.   Jenis Munafik
Ada dua jenis nifak (kemunafikan), yakni nifak Asghar (kecil), nifak Akbar yang disebut juga nifak i’tiqadi (keyakinan).

1.      Munafik Asghar
Nifak asghar adalah disebut juga nifak amali adalah menampakkan dhohirnya yang baik dan menyembunyikan kebalikannya dalam perbuatan. Pokok kemunafikan asghar ada lima poin: pertama, sering berdusta bila berbicara. Kedua, sering tidak menepati janji. Ketiga,jika berselisih melampui batas. Keempat, jika melakukan perjanjian melanggarnya. Dan kelima, sering berkhianat, jika diberi amanat.
Ibnu Rajab berkata, “kesimpulannya, kemunafikan asghar adalah semuanya kembali kepada berbedanya seseorang ketika ia sedang sendiri dengan ketika ia sedang bersama orang lain sebagimana dikatakan oleh Imam Hasan al-Bishri dalam kitab Jami’ul ulum wal ahkam.

2.      Munafik Akbar
Adapun nifak akbar adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman. Kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.[11]

VI.           Perumpamaan Munafik
Dalam beberapa surat, Allah memperumpamakan kehidupan orang-orang munafik dengan perumpamaan yang jelek dan tiada manfaat sama sekali bagi kehidupan:

1.      Membuat Kerusakan.
Mereka diumpamakan oleh Allah sedang membuat kerusakan terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Mereka telah merusak keimanan manusia laksana merusak tanam-tanaman dan hewan.
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia, membuatmu heran, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.
Dan pabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di Bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.
Dan apabila dikatakan, kepadanya: “bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Q.S. al-Baqarah. 02: 204-206)

2.      Berjalan dalam Gelap.
Kehidupan mereka laksana seseorang yang berjalan dalam keadaan gelap gulita, karena tidak mempergunakan telinga, mulut dan mata untuk memahami dan melaksanakan hukum Allah.[12] Karena telinga, mulut dan mata tidak dipergunakan untuk menerima kebenaran dari Allah, maka Allah tidak segan-segan mengatakan mereka sebagai orang tuli, buta dan bisu.[13]
Orang munafik diumpamakan oleh Allah sepeti orang yang berada dalam kegelapan merupakan satu petunjuk bahwa apa yang selama ini mereka lakukan untuk menentang kebenaran dari Allah hanyalah menghasilkan kebingungan, dan phobia akan kebenaran yang datang dari Allah.
Artinya:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Mereka tuli, bisu dan buta[27], maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
 Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir..
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu

VII.        Nasib Orang Munafik di Akhirat
Pada dasarnya orang-orang munafik tersebut akan memperoleh suatu balasan yangsetimpal dengan perbuatannya di dunia dan akhirat.[14] Adapun balasan di akhirat bagi orang-orang munafik di akhirat adalah lebih dahsyat daripada siksaan orang-orang kafir. Mereka akan disiksa di dalam Neraka selama-lamanya dan menjadi pembakar api neraka. Itu semua disebabkan karena serangan orang-orang munafik lebih berbahaya ketimbang orang-orang kafir.
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (Q.S. Al-Nisaa’.145)    

Hanya kecuali mereka yang mau bertaubat kana mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Artinya:
Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzab. 24)

VIII.    Sikap Terhadap Munafik
Orang-orang yang beriman hendaknya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang munafik, sudah barangtentu bila orang tersebut telah jelas ketahuan tanda-tanda kemunafikannya.
Artinya:
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (Q.S. At-Taubah. 73).
Adapun upaya untuk menentang sikap-sikap mereka adalah dengan:

  1. Tidak Mempercayai Sumpahnya.
Segala sumpah yang mereka ucapkan, jangan pernah dipercayai, sebab sumpah mereka hanyalah bohong belaka. Dan orang mukmin jangan segan-segan untuk memberikan pelajaran yang membekas bagi para munafikin.
Artinya:
Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna."
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (Q.S. An-Nisaa’. 62-63)
Sumpah yang mereka lakukan, setelah menerima suatu akibat perbuatannya sendiri, sehingga mau datang dan siap untuk melakukan perdamaian dengan orang-orang yang beriman, maka hendaknya mereka diberikan pelajaran yang membekasdi dalam hati, karena juga segala bentuk sumpahnya tidak akan dapat dipercayai.

  1. Perangi dan Jangan Jadikan Mereka Pemimpin.
Larangan untuk menjadikan orang munafik sebagai seorang penolong dalam arti pemimpin, pelindung orang-orang beriman ini berlaku secara mutlak dalam keadaan bagaimanapun juga, sedangkan memerangi dan membunuh mereka sudah tentu berlaku persyaratan-persyaratan yang mengatur tentang peperangan dalam agama Islam. Artinya harus memenuhi persyaratan tertentu baru boleh diperangi atau dibunuh.

Artinya:
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling[15], tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.

  1. Tidak Menshalatkan Jenazahnya.
Secara mutlak kaum muslimin dilarang untuk menshalatkan jenazah orang munafik; apabila sudah jelas-jelas ia berada dalam golongan orang-orang munafik dalam konteks keimanan. [16]
Artinya:
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

IX.   Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa segala bentuk aktifitas munafik menurut sudut pandang Al-Qur’an sangat membahayakan dan merugikan bagi semua golongan. Kerugian tersebut dirasakan, baik orang kafir yang dalam perjuangannya mendapatkan dukungan penuh dari orang munafik, namun pada saat tertentu yang sekiranya meugikan dan mebahayakan kepentingan mereka, maka para munafikin ini akan meninggalkannya.
Lebih-lebih sangat merugikan Islam dan ummatnya. Mereka lebih bahaya ketimbang orang-orang kafir. Bila orang kafir menentang dan melawan perjuangan Islam dengan terang-terangan, maka orang-orang munafik menyerang dari dalam tubuh Islam sendiri. Mereka adalah musuh dalam selimut. Oleh karenanya, siksa mereka di Akhirat lebih pedih ketimbang orang-orang kafir, yaitu di neraka yang paling bawah, serta menjadi pembakar api neraka. Wallahu ‘A’laam bi Shawwab.









DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Abu, “Jauhilah sifat-sifat Munafik”, http://www.asyariyah.com, diunduh pada 26/09/2010.

Al-Qur’an al-Karim Digital, http://www.alquran-digital.com.

Ilham Masduqie, Abuyah Ahmad, “Syifa al-Shudur”, Pasuruan, Aqdaamul Ulama’, 2005.

Nawai al-Bantani, Muhammad,  Marah  Labid Tafsir NawawiSurabaya, Hidayah.

“Pembahagian Sahabat: Antara Ahli Sunnah dan Syi’ah Rafidhah”, http://www.darulkautsar.netarticle.php?ArticleID=1465.

Yunus, Mahmud, “Kamus Arab-Indonesia”, Jakarta, YPPPA, 1973.

Wahid Syarkani, Abd, “Orang-orang Munafik”, Bangil, al-Muslimun, 1988.



[1] Mahmud Yunus, “Kamus Arab-Indonesia”, Jakarta, YPPPA, hal. 463.
[2] “Pembahagian Sahabat: Antara Ahli Sunnah dan Syi’ah Rafidhah”, http://www.darulkautsar.netarticle.php?ArticleID=1465.
[3] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, Bangil, al-Muslimun, 1988, hal. 51.
[4] Ibid, hal. 52.
[5] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, hal. 53
[6] Abuyah Ahmad Ilham Masduqie, “Syifa al-Shudur”, Pasuruan, Aqdaamul Ulama’, 2002, hal. 12. dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir hal. 344-347.
[7] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, hal. 53
[8] Ahmad Ilham Masduqie, “Syifa al-Shudur”, hal. 12.
[9] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, hal. 54.
[10] Ibid, hal. 54-55.
[11] Abu Abdurrahman, “Jauhilah sifat-sifat Munafik”, http://www.asyariyah.com, diunduh pada 26/09/2010.
[12] Ibid.
[13] Muhammad Nawai al-Bantani, “Marah  Labid Tafsir NawawiSurabaya, Hidayah, hal. 06.
[14] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, hal. 57.
[15] Diriwayatkan bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah s.a.w. di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa demam Madinah, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa demam Madinah. Sahabat-sahabat berkata: Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah? Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.            
[16] Abd. Wahid Syarkani, “Orang-orang Munafik”, hal. 57

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar